Jumat, 05 Agustus 2016

kisah teladan kita bersama



== Kisah Bilal dan Kumandang Adzan Terakhirnya.==
Bilal bin Rabah adalah seorang budak berkulit hitam dari Habsyah (Ethiopia) yang memeluk Islam ketika masih masih menjadi budak. Namun ketika keislaman Bilal diketahui oleh majikannya, Bilal pun disiksa setiap hari agar ia meninggalkan islam. Sehingga suatu hari Abu Bakar memerdekakan Bilal dan iapun menjadi sahabat paling setia Rosululloh SAW.
Dalam sebuah hadits diceritakan bahwa Rosululloh saw pernah bermimpi mendengar suara terompah Bilal di surga. Lalu ketika hukum syariat adzan diperintahkan oleh Alloh maka orang yang pertama kali diperintah oleh Rosululloh untuk mengumandangkannya adalah Bilal bin Rabah, ia dipilih karena suara Bilal sangat merdu.
Kejadian wafatnya Rosululloh, membuat Bilal dilanda kesedihan yang mendalam. Suatu ketika Kholifa Abu Bakar meminta Bilal untuk menjadi muadzin kembali, namun dengan perasaan yang masih sedih Bilal berkata :
”Biarkan aku hanya menjadi muadzin Rosululloh saja. Rosululloh telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi."
Sepeninggalan Rosululloh SAW masih terasa di hati Bilal ia pun meninggalkan Madinah dan mengikuti pasukan Fath Islamy menuju Syam, dan kemudian tinggal di Homs, Syria.
Setelah tingga lama di Syria, Bilal tidak pernah mengunjungi Madinah. Lalu sampai pada suatu malam, Rosululloh hadir dalam mimpi Bilal, dan menegurnya :
"Ya Bilal, Wa maa hadzal jafa? Hai Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku? Mengapa sampai seperti ini?".
Dengan kejadian mimpi itu ia pun bangun dan segera mempersiapkan diri untuk melakukan perjalanan ke Madinah guna berziarah ke makam Rosululloh. Setiba di Madinah, Bilal tidak dapat menahan rindu dan kesedihannya pada Rosululloh SAW.
Kemudian datang cucu Rosululloh Hasan dan Husein. Dengan mata sembab oleh tangis, Bilal yang kian beranjak tua memeluk kedua cucu Rosululloh tersebut.
Salah satu cucu Rosululloh SAW berkata kepada Bilal:
"Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan untuk kami? Kami ingin mengenang kakek kami."
Umar bin Khottab yang saat itu sebagai Khalifah juga memohon kepada Bilal untuk mengumandangkan adzan, meski sekali saja. Dengan perasaan berat lalu Bilal pun memenuhi permintaan itu. Saat waktu sholat tiba, dia naik pada tempat dahulu biasa dia adzan pada masa Rosululloh masih hidup.
Dan mulailah dia mengumandangkan adzan. Saat lafadz Allohu Akbar dikumandangkan olehnya, mendadak seluruh Madinah senyap, segala aktifitas terhenti, semuanya terkejut.
Suara yang telah bertahun-tahun hilang, suara yang mengingatkan pada sosok Nan Agung, suara yang begitu dirindukan itu telah kembali.
Ketika Bilal meneriakkan kata Asyhadu an laa ilaha illolloh, maka seluruh isi kota madinah berlarian ke arah suara itu sambil berteriak, bahkan para gadis dalam pingitanpun mereka keluar menuju ke arah suara itu berkumandang.
Dan saat bilal mengumandangkan Asyhadu anna Muhammadan Rosululloh, Maka madinah pecah oleh tangisan dan ratapan yang sangat memilukan.
Semua menangis, teringat masa-masa indah bersama Rosululloh, Umar bin Khattab yang paling keras tangisnya. Bahkan Bilal sendiri pun tak sanggup meneruskan adzannya, lidahnya tercekat oleh air mata yang berderai.
Hari itu madinah mengenang masa saat masih ada Rosululloh diantara mereka.
Hari itu adalah adzan pertama dan terakhir bagi Bilal setelah Rosululloh wafat. Itulqh adzan Bilal yang tak bisa dirampungkan karena tak sanggup lagi menahan kesedihan.
Subhanalloh, sungguh kisah yang sangat mengharukan betapa cintanya Bilal kepada Rosululloh SAW.

kisah inspirasi



                                                            Indah”
            Indah sebuah nama yang menarik,tapi sayang,kisah kehidupan yang ia tempuh tidak semenarik namanya itu.ia hanya seorang gadis desa yang hidupnya jauh dari perkotaan,dia hanya memiliki seorang ibu,ayahnya sudah lama meninggalkan mereka  pergi kekota,dan sampai sekarang beliau tidak pernah kembali lagi.kesepian sangat nampak dari sebuah rumah kecil yang berada di pinggir gunung itu.
          Setiap hari ibunya bekerja sebagai tukan cuci pakaian dirumah orang kaya di desanya,itu yang dilakukannya setiap hari,hanya semata mata untuk mengisi perut nya dan untuk membiyayai sang buah hatinya yang kini bermondok di sebuah pasantren yang berada di sebuah kota kecil yang jauh dari tempat tinggal nya,
          Kesedihan dan kekecewaan setiap hari melanda di hatinya indah,saat mengingat ayahnya yang begitu tega meninggalkan ibunya,dan membiarkannya bekerja banting tulang sendiri setiap hari untuk membiyayai pendidikan indah yg bisa di bilang agak mahal,hanya karna kemerlapan suasana kota,membuat ayahnya buta mata dan hatinya,sehingga melupakan sebuah tanggung jawab yang telah di bebankan kepadanya.
          Kepahitan hidup yang dialami indah,membuat ia berambisi untuk bangkit,dan berusaha mengubah nasibnya dan nasib sorang ibu yang ditinggalkannya,
belajar,berusaha dan berdoa,itu adalah tujuan utama indah selama dia masih dipasantre ini,karna dia ingin menjadi yg terbaik diantara santri santri yg ada disini.
          Meskipun indah seorang anak desa,namun ia jago bermain badminton,dulu sewaktu SMP dia pernah meraih juara 2 lomba badminton tingkat nasional,itu adalh hadianh terakhir untuk ibunya sebelum dia masuk pasantren.
          Rahmi adalah sahabat terbaik indah sewaktu SMP,dan sekarang takdir sudah mempertemukan mereka kembali,tanpa sengaja mereka memasuki pasantren yang sama,benar benar sebuah hadiah yang istimewa bagi indah,tapi sayang pertemuan yang singkat membuat indah sangat terluka,ketika mengetahui keadaan sahabat nya saat ini.
          Rahmi yg mengindap penyakit kanker membuat keadaannya semakin hari semakin memburuk,menurut perkiraan dokter usianya hanya beberapa bulan lagi, tapi perkiraan meleset,rahmi meninggal lebih awal dari perkiraan,separuh jiwa terasa hilang ketika melihat jasad rahmi hilang dari pandangan,kini aku erasa sendiri lagi,bayangan dan senyuman rahmi selalu menghantui setiap hari hariku.kenapa rahmi harus pergi secepat ini,sebelum dia melihat hari bahagia dalam hidup indah.
          Kesedihan terasa sangat mendalam dihati indah,ketika sahabat terbaik nya tidak bisa hadir dihari pesta pernikahannya,karena sudah duluan menemui ajalnya,seharusnya dihari itu indah masih bisa melihat tangis haru dari sahabat terbaiknya yaitu rahmi ulya putri,nama itulah yg kini tertulis di sebuah batu nisan,  yang kini mula pudar dengan seiring berjalannya waktu,namun akan tetap tersimpan di hati indah sampai akhir waktu,,,,
 Begitulah kisah perjalanan hidup indah,akhirnya takdir  telah berbicara untuk merubah segalanya,kebahagiaan dan ketenangan kini telah menyertai hidupnya dan sang ibunya,,,
end                              oleh;muliani  jamil                               fak.ilmu sosial dan politik universitas malikussaleh ,

karna hidup adalah sebuah perjalanan...



Karna hidup adalah sebuah perjalanan
hidup adalah sebuah perjalanan. Demikian salah seorang guru kehidupan pernah berkata. Dan karena hidup adalah sebuah perjalanan, maka tugas kita hanya berjalan dan terus berjalan, hingga kita sampai di tempat tujuan.
Perjalanan macam apakah kehidupan? Berjalan kemanakah kehidupan kita? Bagaimanakah kita menjalani kehidupan kita?
Pertanyaan seperti itulah yang akan muncul jika kita menganalogikan kehidupan seperti sebuah perjalanan.
Perjalanan kehidupan kita dimulai dari awal kedatangan kita di dunia ini, keluar dari rahim seorang ibu, dan mulai mendapatkan kasih saying serta bermacam-macam berkah. Kemudian kita sedikit demi sedikit bertumbuh menjadi seorang manusia yang memiliki kepribadiannya sendiri. Kita mulai menentukan pilihan kita, mulai berputar dalam perilaku baik buruk, mulai terbingungkan oleh realita dan idealism, mulai tidak mengerti, mulai menyerah, lalu mulai tercerahkan lagi.
Banyak hal yang kita alami dalam kehidupan. Sangat banyak. Apa pun yang kita alami, bagaimana pun kehidupan kita, yang harus kita lakukan adalah tetap berjalan, terus berjalan melangkah dalam kehidupan kita.
Namun terkadang kita dipaksa untuk menyerah, dipaksa untuk berhenti melangkah. Ada kalanya kita menjadi demikian putus asa, merasa tak berdaya dan tak mampu lagi melakukan apa-apa. Ada saat-saat dimana kita berada dalam titik nadir, berada dan tenggelam begitu jauh di lembah keperpurukan. Entah apa masalah atau alasan dibalik keterpurukan itu, namun kebanyakan kita pasti pernah mengalami hal semacam itu. Dalam kondisi atau keadaan itu, pikiran kita yang telah sama lelahnya dengan berbagai aspek dalam kehidupan kita mungkin berbisik, “aku menyerah. Aku tak sanggup untuk berjalan lagi”. Saya pernah mengalami masa dimana satu-satunya pilihan yang tersedia untuk saya hanya berhenti melangkah, menyerah karena saking tidak berdayanya. Saya telah mencoba semua cara, semua pendekatan, namun saya tak bisa membuat keadaan lebih baik. Karena itu, saya tak akan menyalahkan siapa pun diantara anda yang hendak menyerah.
Namun kemudian saya sadar. Saya telah melangkah begitu jauh. Terlalu jauh malah. Saya tidak mungkin kembali (dan perjalanan hidup adalah sama seperti perjalanan waktu, dimana sekali kita melangkah kita tak akan mampu lagi untuk mundur atau kembali), namun energi saya untuk terus melangkah juga telah habis. Di pikiran saya hanya satu, saya harus berhenti melangkah dan duduk menunggu mati, atau mengumpulkan sisa-sisa tenaga saya untuk terus melangkah. Harapan membuat saya lebih kuat. Harapan memberikan cahaya penerangan diantara gelapnya situasi yang saya alami. Saya melangkah sedikit demi sedikit, terus berjuang menghadapi masalah yang tidak bisa saya selesaikan, sambil berharap akan muncul pertolongan, akan muncul sesuatu yang bisa menambah energy saya. Saya melangkah, dan terus melangkah.

Cinta yg di dambakan atau masa depan yg harus di perjuang kan



Cinta yg di dambakan atau masa depan yg harus di perjuang kan
Banyak yang aku lihat, namun sedikit yang kuketahui. Kiriman pesan singkatnya terkadang membuat jatuh dimabuk asmara. Kita tahu di masa kecil, cinta terasa mudah. Bermain bersama atau sekedar bercakap via telepon. Pada akhirnya, paradigma dan opini di masa dewasa membuat kita semakin mengerti bahwa hidup bukan hanya sekedar cinta. Dunia yang kita hadapi membuat kita harus bekerja cerdas dan keras.
Kadang hati bertanya-tanya,"apakah cinta akan berubah?" "Akankah kita terus bersama?" Kadang kita harus melewat fase jatuh bangunnya cinta agar kita mengerti. Tidak ada yang patut diperjuangkan, jika kita tidak mengikhaskan diri. Semua terikat dalam memori. Bahkan dalam hidup, penuh tanda tanya."Akankah kita sukses? Atau mengalah?" Tidak mudah melupakan orang yang paling dipercaya. Entah kebenciaan atau rasa sayang teramat dalam. Bahkan, kita bisa mendengar dan melihat dia berjanji, namun tetaplah Tuhan yang memisahkan.
Jalanilah dan nikmati hidup dengan baik, karena hidup bukan hanya sekedar cinta. Kita bisa menerka dan melihat dunia, agar kita tahu cinta bukan hanya untuk satu orang, namun untuk semua orang. Kesuksesan adalah pemabalasan terhadap cinta yang sudah gagal. Bukankah, pengalaman merupakan guru yang terbaik?

inspirasi kita



Aku sudah setiap hari mencintaimu,
jadi biarkan aku pergi,selamat tinggal
hampir Setiap Rabu biru, aku terbenam dalam air asin ini. Air itu berhamburan memenuhi diriku sehingga dapat kubasuh lukaku yang tak akan pernah bisa dilihat orang. Belasan Bulan sudah lewat. Kupikir, lama-kelamaan akan jadi baal. Aku salah. Ternyata, di dalam sini masih saja terasa perih. Arus menampar mukaku sana-sini. Aku diam saja. Matahari timbul emas-keunguan. Ia jauh seperti engkau. Bedanya, ia selalu kembali, sementara kau tidak. Ketika kau masih di sini, kuucapkan aku mencintaimu setiap hari. Kupeluk dan kucium engkau setiap hari. Kuhirup baumu setiap hari. Kudengarkan ceritamu setiap hari. Kusediakan apa-apa yang kau perlukan setiap hari. Mengapa? Supaya tak ada penyesalan ketika nanti kau telah pergi. Aku tak ingin menyesal. Penyesalan bagiku adalah sesuatu yang bisa menjatuhkan jiwa dan kejatuhan jiwa akan melahirkan luka.
Air asin ini mendorong-dorong tubuhku. Aku terhuyung. Bayangmu seketika buyar. Aku sudah berulang kali ke sini, namun air ini tidak lebih ramah dari yang kemarin. Sama saja seperti Waktu.
 Persahabatan macam apa yang telah kujalani dengan Waktu semenjak kau pergi? Jika begitu, untuk apa sebenarnya aku ke sini dan meminjam jam-jamnya sejenak? Pertanyaan-pertanyaan ini membuatku pusing. Kutapaki karang-karang hitam dan undakan pasir. Buih-buih memecah di betisku. Aku terduduk di pasir kelabu. Kutatap arakan awan yang ditembus-tembusi cahaya dari Matahari yang mulai meninggi. Udara pun menghangat. Aku berbaring melihat Langit. Kali ini, ternyata ia sedang berupaya menjetikku lebih keras dari biasanya. Kutarik napas dalam seolah aku mampu menghidupkan segala hawa kehidupan dari atas sana dan menyerapnya ke dalam jiwaku yang tinggal separuh. Ia menyadarkanku pelan-pelan akan apa yang sebenarnya aku butuhkan.
Tuhan, penguasa Langit, Laut, dan Waktu, rengkuhlah aku. Bantu aku jadi lebih kuat. Bantu aku melepas belenggu perih lukaku ini. Aku ingin bangkit.
 Laut, Langit, bagaimanapun, aku ingin berterima kasih kpda mu karena sudah setia  menemani.
Dan untuk Waktu, kupikir sudah saatnya kita berdamai. Aku akan pergi dari sini. Akan kulangkahkan kakiku ke depan dengan langkah yang  lebih tegap tanpa keraguan. Kasih, Cintaku, memori tentangmu tak akan pernah usang. Kau akan selalu ada di dalam sini. Aku sudah mencintaimu setiap hari,jadi biarkan aku pergi.........Selamat tinggal......................